Kamis, 26 Januari 2012


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan dan peradaban manusia di awal milenium ketiga ini  mengalami banyak perubahan. Dalam merespon fenomena ini, manusia berpacu mengembangkan pendidikan dalam semua lapangan ilmu pengetahuan (sosial, alam, pasti dan ilmu terapan).
  Seiring perkembangan tersebut, muncul sejumlah krisis multidimensi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, baik bidang idiologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan maupun keamanan. Konsekwensinya, peran serta efektivitas pendidikan agama di sekolah sebagai pemberi nilai spiritual terhadap kesejahteraan masyarakat dipertanyakan. Dengan asumsi bahwa jika pendidikan agama dilaksanakan dengan baik, maka kehidupan masyarakat pun akan lebih baik.
Agar kondisi ini bisa terwujud maka diperlukan sistim yang baik pula.. Karenanya, Pemerintah membuat aturan strategis berupa Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, dengan harapan keadaan masyarakat lebih baik dan kondusif untuk menjawab tantangan zaman. sebagaimana termaktub dalam bab II Pasal 3 bahwa  :
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta  didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung jawab” (UU Sisdiknas, 2003:7)

Agar supaya pelaksanaan Undang-Undang ini berjalan efektif dan effisien, perlu dilengkapi pedoman operasional berupa Kurikulum Berbasis Kompetensi (Basic Competency) yang lebih menitik beratkan pada pencapaian target kompetensi; lebih mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia; serta memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pelaksana pendidikan di lapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.
Pembelajaran berbasis kompetensi merupakan pembelajaran yang dirancang untuk menggali potensi dalam pengalaman belajar siswa agar mampu memenuhi pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan (Mulyasa, 2005:94).
Dalam ajaran Islam, pendidikan agama Islam sebagai wacana yang memiliki tingkat urgenitas yang tinggi terhadap proses pengembangan seutuhnya dan harus menjadi prioritas dalam membangun tatanan yang lebih progresif.  Sedangkan menurut Zakiyah Drajat sebagaimana dikutip Majid,dkk bahwa pendidikan Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasah peserta didik agar senantiasa memahami ajaran Islam secara menyeluruh (Majid, Adayani, 2005: 130).
Mengingat pentingnya pendidikan dalam kehidupan manusia dan pentingnya proses pembelajaran untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, maka dalam ajaran Islam kedua proses tersebut sangatlah ditekankan pelaksanaannya.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an surat Al-Mujadalah ayat 11 :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ امَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ امَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (المجادلة : 11)
Artinya: Hai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu “ berlapang-lapanglah dalam mejelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan ‘’ berdirilah kamu’, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Depag RI, 1989: 910).
Dengan pedoman tersebut diharapkan output Pendidikan Agama Islam khususnya akan lebih baik dan menciptakan keadaan masyarakat yang lebih kondusif untuk menjawab tantangan zaman . Menuntut ilmu merupakan fardlu ‘ain (kewajiban mutlak) bagi setiap insan khususnya kaum muslimin agar menjadi manusia yang paripurna (insan kamil).  Secara implisit, proses belajar-mengajar haruslah sesuai dengan situasi dan kondisi peserta didik (student centred), baik kondisi fisik maupun psikologisnya (physic and psychis condition of students)
Karenanya, respon pemerintah dalam pembangunan pendidikan nasional, khususnya Pendidikan Agama Islam sebagai ujung tombak pembangunan bangsa sebagaimana diharapkan dalam undang-undang, perlu melibatkan aneka ragam sarana-prasarana, salah satu diantaranya ialah kurikulum berbasis kompetensi (Basic Competency).
Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik, kesesuaian dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi (Iptek).
 Untuk mewujudkan tujuan tersebut dibutuhkan program yang memungkinkan siswa memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam, sehingga diharapkan siswa mempunyai pengetahuan yang luas, keimanan dan ketakwaan yang kuat serta memiliki akhlak yang baik sebagai hasil proses belajar mengajar.
Agar supaya proses belajar-mengajar berjalan dengan baik dibutuhkan pendekatan pembelajaran terpadu dan metode pengajaran yang sesuai dengan tujuan, salah satunya adalah “ Reading Guide ”. Reading Guide adalah suatu metode dimana siswa dituntut untuk menjadi lebih aktif memahami materi ajar sesuai dengan tujuan pengajaran dengan cara melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru dalam bentuk tulisan (Zaini , 2004:8).
 Reading guide ini dilaksanakan bilamana alokasi waktu belajar-mengajar di kelas tidak seimbang dengan alokasi waktu yang tersedia. Dengan metode ini diharapkan siswa lebih aktif mengekplorasi wawasan terhadap materi ajar yang disajikan guru karena siswa akan memiliki dua kegiatan secara simultan yaitu kreatif membaca, membuat pertanyaan dan jawaban; dan tujuan pembelajaran bisa tercapai secara optimal.
Sedangkan dalam A Guide To Resources, Reading Guide dari pada reading guide ialah petunjuk guru. Guru menguraikan konsep sesuai dengan tujuan, kebutuhan dan pengetahuan anak. Kemudian, guru menbulis pertanyaan dan atau pernyataan yang memandu murid untuk membaca dan merespon (menanggapi) konsep dan bahan bacaan /teks).
Maksud dari batasan di atas adalah  reading guide merupakan penuntun bagi guru dalam menyajikan pelajaran kepada  peserta didik dengan mengajukan beberapa pertanyaan untuk memperoleh respon dari mereka dan merangsang mereka mempelajari bahan bacaan yang diberikan. Dengan metode Reading Guide ini maka guru bisa menciptakan suasana kelas lebih  aktif, dengan cara memberikan suatu bacaan sehingga peserta didik dapat membuat pertanyaan dan mampu menjawab ataupun membuat sebuah statemen.
ِإقْرَأْ كِتبَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ اْليَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْبًا ( بنى اسرائيل: 14)
Artinya     “ bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisap terhadapmu”(Depag, 1989:426)
Realita menunjukkan bahwa, masih sedikit jumlah siswa yang memiliki minat baca, sehingga mempengaruhi kualitas wawasan dan ilmu pengetahuannya. Oleh sebab itu tujuan reading guide yaitu agar supaya siswa bisa menumbuhkan keinginan membaca dan mengkritisi suatu bacaan. Sehingga dengan begitu proses pembelajarn menjadi lebih aktif.
SMPN 02  merupakan lembaga formal, yang berupaya mengimplementasikan kompetensi kurikulum PAI, dalam rangka mengoptimalkan pemahaman ajaran Agama Islam dengan mengembangkan sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Akan tetapi usaha tersebut masih baru diaplikasikan dikelas I dan II.
Lembaga ini merupakan salah satu sekolah menengah di desa  yang telah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan besarnya perkembangna jumlah siswa yang mendaftarkan diri dari setiap tahunnya. Bahkan sampai saat ini jumlah siswa yang masuk sudah kurang lebih tiga siswa (terhitung dari kelas satu sampai kelas tiga).
Siswa yang ada di sekolah ini tidak hanya datang dari masyarakat sekitar melainkan dari luar desa. Kebanyakan orang tua siswa ingin mencetak output yang berkualitas, oleh karena itu orang tua mempercayakan anaknya pada lembaga ini, selain orang tua ingin mencetak output berkualitas, juga diharapkan output menanamkan serta menciptakan akhlaqul karimah. Oleh karena itu dalam lembaga ini mengoptimalkan pembelajaran PAI dengan salah satu metode dimana siswa dapat memahami dan mengerti tentang Pendidikan Agama Islam secara utuh.
Materi PAI adalah merupakan satu mata pelajaran yang erat sekali hubungannya dengan kehidupan sehari-hari siswa, keefektifan pembelajaran PAI sangat di dukung dengan pemahaman siswa tentang ajaran Islam dan kesadaran siswa untuk mengaplikasikannya kedalam kehidupan sehari–hari. Oleh karena itu, dalam metode Reading Guide pada mata pelajaran PAI siswa dapat bertanya dan menjawab apa yang telah siswa ketahui maupun belum diketahui.
Dari uraian diatas, dapat dimengerti bahwasanya SMPN 02  adalah lembaga pendidikan formal namun didalamnya menanamkan dan mengajarkan pendidikan Agama Islam dengan memanfaatkan potensi dan mengembangkan baik dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Oleh karena itu peminat lembaga ini sangat banyak, maka dari itu sistem pembelajaran harus disesuaikan denagn kemajuan zaman, supaya tidak menimbulkan kekecewaan dikalangan orang tua peserta didik.
Realitas yang ada pada proses pembelajaran  di lembaga itu sangat jauh dari proses pembelajaran efektif, ketidak efektifan pada proses pembelajaran yang ada di lembaga tersebut dibuktikan dengan adanya siswa yang mondar-mandir keluar masuk kelas disaat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung selain itu belum diterapkannya PAKEM.
Dengan demikian kondisi atau situasi belajar peserta didik yang  ada di lembaga ini masih belum dapat dikatakan situasi belajar yang efektif dan menyenangkan. Sebab pembelajaran dapat dikatakan efektif dan menyenangkan didalam proses pembelajaran manakala dicirikan oleh dua aktifitas yakni aktif dalam berfikir (minds-on) dan aktif dalam berbuat (bands-on) yang keduanya saling terkait.
Perbuatan siswa dalam pembelajaran merupakan hasil keterlibatan berfikir terhadap obyek belajarnya. Pengalaman sebagai hasil perbuatan siswa, selanjutnya diolah dengan menggunakan kerangka berfikir dan pengetahuan yang dimilikinya untuk membangun pengetahuan. Dengan cara ini peserta didik dapat mengembangkan pemahaman bahkan merubah pemahaman sebelumnya menjadi semakin baik (ilmiah) (Suparno,2002:42).
Dengan demikian proses pembelajaran yang ada di SMPN 02 Yayasan Islam Nahdlathuth Tholabah belum kondusif, sebab kreatifitas serta ketrampilan siswa dalam mengolah pemikiran peserta didik itu sendiri sangat kurang, hal ini dibuktikan dengan terlibatnya siswa dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu perlu adanya optimalisasi proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal, efektif dan efesien, melalui salah satu pembelajaran aktif  yaitu Reading Guide.
Dari fenomena diatas, kiranya perlu adanya suatu perbaikan dalam proses pembelajaran, supaya kegiatan belajar mengajar menjadi lebih aktif. Perbaikan ini diaktualisasikan menggunakan strategi reading guide.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar